Monday, August 21, 2017

Belajar Sukses dari Founder Zara



Untuk menjadi sukses seseorang bisa belajar dengan siapapun, termasuk belajar dari inspirasi yang dilakukan oleh Amancia Ortega. Jika anda seorang penggemar fashion, pasti telinga anda sudah tidak asing lagi dengan merk fashion terkenal 'Zara'. Merk fashion yang satu ini sangat terkenal di dunia internasional. Namun siapa sangka pemilik atau pendiri Zara yang terkenal merupakan seseorang yang sederhana dan putus sekolah sejak usia 13 tahun tetapi memiliki kekayaan sebesar US$ 57 miliar dan berhasil menduduki posisi sebagai orang terkaya nomor tiga di dunia. Artikel kali ini akan membahas mengenai biografi atau profil Amancio Ortega seorang pendiri sekaligus pemilik dari Ritel dan aksesoris terkenal bermerk Zara yang sangat terkenal di dunia fashion internasional. Amancio Ortega terlahir pada tanggal 28 maret 1936 di Spanyol dari keluarga yang miskin.

Sejak kecil ia bahkan tidak mendapatkan pendidikan formal dikarenakan kondisi perekonomian keluarganya yang amat memprihatinkan sebab itu di usianya yang 13 tahun ia memutuskan untuk berhenti sekolah dan membantu kedua orang tuanya bekerja. Ayah ortega merupakan pekerja biasa di rel kereta api, sementara ibunya hanyalah seorang pembantu rumah tangga.

Ortega terkenal sangat melindungi kehidupan pribadinya dari sorotan media dan publik. Perusahaannya juga hanya memberikan sedikit informasi tentang dirinya. Selama berpuluh-puluh tahun malang melintang di dunia bisnis, Ortega hanya memiliki satu foto saja untuk media. Foto tersebut pertama kali muncul dalam laporan keuangan tahunan perusahaannya pada 1999. Namun setelah itu paparazzi berhasil mendapatkan beberapa fotonya.

Tak cukup sampai di situ, seumur hidupnya cuma tiga wartawan yang diperbolehkan mewawancarainya. Ortega juga jarang datang ke acara-acara kantor. Bahkan Ortega tak menemui Pangeran Spanyol Felipe yang mengunjungi Inditex, perusahaan pakaian multinasional di mana dia memiliki 60% sahamnya. Sang tamu kerajaan justru hanya disambut oleh salah satu wakil Ortega.

Pada Desember 2012, media Spanyol mengabarkan Ortega membayar US$ 500 ribu untuk mencegah paparazzi mempublikasikan foto anaknya, Marta yang tengah berbulan madu bersama suaminya. Tak heran banyak orang tak mengenal profilnya, Ortega memang miliarder misterius. Meski kekayaannya datang dari bisnis pakaian, tapi Ortega selalu berpakaian sangat sederhana.

Dia selalu mengenakan blazer biru, kemeja putih dan celana abu-abu. Uniknya, semua pakaiannya tersebut bukan produk Zara. Dia juga tak pernah pakai dasi selain pada pernikahan pertamanya. Tak hanya itu, sebagai bos yang paham betul arti kemiskinan, dia selalu pergi ke kedai kopi yang sama setiap hari. Dia bahkan selalu makan siang bersama karyawannya di kafetaria kantor.

Untuk itu, ada beberapa pelajaran bisa kamu petik darinya seperti dikutip harian The Independent dalam Kompas (24/06).

1. Tak punya ruangan, meja dan komputer pribadi

Menurut beberapa rekan bisnisnya, Amancia lebih memilih bekerja bersama rekan-rekannya di ruang desain Zara Woman.

2. Sosok kuat dan mendalam

Jose Maria Castellano yang merupakan rekan bisnis Amancia lebih dari 31 tahun menyebutnya sebagai sosok kuat dan mendalam. Amancia adalah orang yang suka berdiskusi secara pribadi dan rinci dengan kelompok-kelompok kecil.

3. Komunikasi langsung

Komunikasi menggunakan email tentu sudah jamak. Meski begitu, Amancia tetap mempertahankan gaya komunikasi konvensional. Dia lebih suka berbicara langsung pada orang yang ingin ia ajak bicara.

4. Membagi tugas

Meski dia adalah orang nomor satu di Zara, ia tak sungkan berbagi tugas pada bawahannya.

5. Selalu menjadi pendengar

Amancio adalah orang yang rajin mendengarkan. Dia lebih suka mendengar daripada bicara. Dia menghindari bicara di depan umum dan membiarkan anak buahnya berbicara kepada publik.

6. Memilih gerai di dekat pabrik

Menjaga bisnis tetap dekat rumah juga merupakan salah satu kunci sukses Amancia. Karenanya, 55% pabrik Zara dan sebagian besar gerai ada di Spanyol, Portugal dan Maroko meski produksinya banyak dilakukan secara outsourcing di Asia

Mencengangkan, Inilah Tips Sukses Ala Albert Einsten


Albert Einstein adalah seorang fisikawan teoritis kelahiran Jerman yang mengembangkan teori umum relativitas, mempengaruhi sebuah revolusi dalam dunia fisika. Untuk prestasi ini, Einstein sering dianggap sebagai bapak fisika modern, fisikawan paling berpengaruh dari abad ke-20 dan juga paling dikenal karena rumus E = mc2 kesetaraan mass-energi. Einstein menerima penghargaan “1921 Nobel Prize in Physics” karena teori fisikanya terutama untuk penemuan hukum efek fotolistrik, yang mana kelanjutannya penting untuk membangun teori kuantum fisika.


Pada awal karirnya, Einstein berpikir bahwa mekanika Newton tidak lagi cukup untuk menggabungkan hukum mekanika klasik dan hukum medan elektromagnetik. Hal ini menuntun pada pembuatan teori relativitas khusus. Einstein terus menangani masalah mekanika statistik dan teori kuantum, ia juga meneliti sifat panas cahaya yang mendasari teori foton cahaya.


Pada tahun 1933 ketika Adolf Hitler, ia mengunjungi U.S dan tidak kembali ke Jerman, di mana ia telah menjadi profesor di Berlin Academy of Sciences. Di Amerika ia menetap dan menjadi warga negara pada tahun 1940. Saat Perang Dunia II, ia membantu memperingatkan Presiden Franklin D. Roosevelt bahwa Jerman kemungkinan besar mengembangkan senjata atom, kemudian Einstein merekomendasikan Amerika untuk memulai penelitian serupa, dan menjadikannya sebagai “Manhattan Project”. Einstein saat itu memberikan dukungan pada pasukan sekutu, meskipun ia mencela akan penemuan dari senjata nuklir. Hingga bersama-sama dengan Bertrand Russell, Einstein menandatangani Manifesto Russell-Einstein yang menyoroti bahaya senjata nuklir. Pada akhirnya Einstein bergabung dengan Institute for Advanced Study di Princeton, New Jersey, hingga kematiannya tahun 1955.

Tentu saja, setiap orang ingin sukses layaknya Albert Einsten. Sebagaimana dilansir dalam Detik (27/05) Albert Einsten dikenal sebagai sosok yang sukses dan menginspirasi banyak orang hingga sekarang. Walaupun pernah mengalami masa sulit, tapi Einstein ternyata mampu melewatinya dan meraih kesuksesan yang selalu diimpikan orang.

1. Tahu arti penting waktu
Satu hal yang tidak akan bisa dikembalikan adalah waktu. Orang sukses adalah mereka yang mampu memanfaatkan waktu dengan baik.

2. Rasa ingin tahu besar
Orang yang memiliki rasa ingin tahu yang besar adalah orang yang memiliki wawasan yang luas. Orang yang haus akan informasi ini juga akan lebih aktif. Mereka cenderung terus bertanya dan berusaha mencari jawaban atas pertanyaan yang selama ini ditanyakan.

3. Berani gagal
Orang yang berani gagal berarti mereka adalah orang-orang yang tidak takut untuk keluar dari zona nyaman. Apabila Anda mau sukses layaknya Albert Einstein, Anda harus berani untuk menghadapi tantangan, salah satunya adalah kegagalan.

4. Selalu belajar
Orang yang tidak pernah berhenti belajar akan mampu meraih kesuksesan besar dalam hidupnya. Pembelajaran ini tidak hanya didapat di bangku sekolah formal. Anda juga bisa mendapat pelajaran penting dari pengalaman sehari-hari.

5. Berani hadapi perubahan
Albert Einstein pernah berkata untuk selalu berani menghadapi perubahan yang terjadi. Berani menghadapi perubahan akan membuat Anda menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu, berani menghadapi perubahan juga akan membuat Anda mengerti tentang kondisi yang terjadi di sekeliling.

6. Menjadi ahli di bidang tertentu
Dari pada memaksakan diri untuk bisa mengerti dan mempelajari semua hal, Anda dapat memilih untuk menjadi ahli di satu bidang tertentu. Kebanyakan orang sukses dalam hidup adalah mereka yang mampu memanfaatkan kelebihan yang dimiliki dan menjadikannya senjata untuk memperoleh kesuksesan.

7. Bijak menggunakan teknologi
Di era teknologi yang berkembang sangat pesat, banyak keperluan manusia yang dibantu oleh teknologi. Hal ini berimbas pada banyak orang yang menjadi ketergantungan dengan adanya teknologi. Hal inilah yang harus Anda hindari. Walaupun banyak teknologi yang dapat membantu, Anda juga harus tetap bijak menggunakan teknologi yang ada.

Simak quote-quote yang sangat inspiratif dari Albert Einsten berikut.


Tips Sukses Ala Bos Apple Steve Jobs



Steven Paul "Steve" Jobs (lahir di San Francisco, California, Amerika Serikat, 24 Februari 1955 – meninggal di Palo Alto, California, Amerika Serikat, 5 Oktober 2011 pada umur 56 tahun) adalah seorang tokoh bisnis dan penemu dari Amerika Serikat.

Siapa yang tak mengenal Steve Jobs? Miliuner penemu Apple ini, merupakan salah seorang pengusaha sukses yang namanya selalu masuk dalam jajaran orang terkaya di dunia.

Meskipun kini beliau telah tiada, namun semangat kerja dan strategi jitu yang ia ambil dalam membangun kerajaan bisnis, menjadi motivasi tersendiri bagi banyak pelaku usaha yang ingin sukses. Berikut beberapa tips motivasi bisnis dari Steve Jobs sebagaimana dilansir dalam Detik (04/08):

1. Kembangkan diri
Terus lapar akan ilmu pengetahuan, dan terus belajar untuk meningkatkan kemampuannya. Modal inilah yang membuat Steve Jobs tak pernah berhenti untuk berkreasi dan berinovasi, hingga akhirnya ia berhasil menciptakan ide-ide besar dan mengutak-atik perangkat elektronik sederhana menjadi pencetus sejarah komputerisasi yang mendunia.

2. Mulailah dengan apa yang Anda cintai
Tidak bisa dipungkiri bila modal passion menjadi kunci utama kesuksesan para pelaku usaha, termasuk juga Steve Jobs yang begitu mencintai dunia kerjanya. Steve Jobs tentunya memberikan gambaran pada kita semua, bahwa walaupun ia pernah mengalami penolakan, namun Ia tetap rela memulainya kembali dari nol karena Ia benar-benar menyukai pekerjaannya (Apple).

3. Menciptakan kesederhanaan untuk melahirkan impian konsumen
Terkadang sederhana itu lebih susah daripada rumit. Bahkan Steve Jobs pun harus bekerja lebih keras untuk bisa berpikir optimal dan membuat produk Apple yang dikenal canggih menjadi lebih sederhana. Ia memikirkan cara mengoperasikan yang lebih gampang (sederhana) sehingga para konsumen bisa langsung memikirkan apa yang akan mereka lakukan ketika memiliki produk Apple. Terbukti, belakangan ini produk Apple lebih simpel dan memahami kebutuhan para konsumen.

4. Melakukan yang tebaik
Hal inilah yang selalu diingat Steve Jobs dalam menjalankan pekerjaannya, sehingga setiap kali bercermin di pagi hari, Ia selalu mengupayakan apa yang dilakukannya bisa jauh lebih bermakna dibandingkan hari-hari sebelumnya dan mulai merencanakan pilihan-pilihan besar dalam hidupnya.

5. Buatlah pengalaman yang baru
Steve bukan hanya menjual produk Apple saja, ia bahkan menjadikan Apple Store menjadi sebuah tempat di mana orang-orang dapat mendapat pelajaran dan pengalaman unik tentang Apple. Ia tidak fokus pada barang yang ia jual saja, tapi juga dengan cara penjualannya.

Berikut adalah poin–poin dari Steve Jobs yang dapat menginspirasi Anda dalam menjalankan bisnis. Semoga bermanfaat.

Mau lihat Steve Jobs - Official Trailer yuk klik video dibawah ini.


Sukses Belajar dengan 10 Tips Ini!



Sukses dalam belajar adalah keinginan setiap siswa. Sebagaimana dilansir dalam Kompas (25/07) ada yang percaya bahwa kesuksesan adalah takdir. Ada pula yang meyakini bahwa kesuksesan akan datang dengan usaha keras. Kebanyakan, kesuksesan hadir karena adanya usaha pengembangan diri dan disiplin dalam menerapkan kebiasaan belajar yang efektif. Nah, berikut ini adalah 10 tips yang bisa Anda gunakan untuk mencapai kesuksesan belajar!

1.Jangan pernah menumpuk pelajaran dalam satu sesi
Siswa yang berhasil dalam belajar biasanya memiliki periode waktu atau jadwal belajar yang lebih singkat dan efektif. Mereka tidak pernah mencoba belajar dengan "sistem kebut semalam." Jika Anda ingin menjadi siswa yang sukses, maka Anda perlu belajar dengan konsisten. Anda juga harus memiliki waktu yang teratur, meski pun sesi belajar yang lebih pendek.

2. Rencanakan waktu belajar
Siswa yang sukses memiliki jadwal belajar yang spesifik. Mereka akan menyelesaikan tugas studi mereka dan tetap konsisten dengan jadwal yang mereka tulis. Siswa yang belajar dengan cara sporadis dan main-main tidak akan mudah berhasil dibandingkan siswa yang memiliki jadwal belajar.

3. Belajar di waktu yang sama
Selain perencanaan, belajar dengan rutin juga dapat memberikan efek positif dalam diri Anda. Ketika Anda belajar pada saat yang sama setiap hari, hal itu akan menjadi kebiasaan dalam hidup Anda, sehingga secara mental dan emosional lebih siap untuk belajar dan setiap sesi belajar akan menjadi lebih produktif.

4. Belajar dengan memiliki tujuan
Belajar tanpa arah dan tujuan tidak akan pernah efektif. Anda harus tahu persis apa yang menjadi tujuan Anda dalam belajar. Sebelum belajar, tentukanlah target apa yang harus Anda capai dalam sesi tersebut. Misalnya, menghapal 30 kosakata bahasa Spanyol dalam satu sesi belajar.

5. Jangan pernah menunda waktu belajar yang sudah direncanakan
Sangat mudah bagi Anda untuk menunda sesi belajar yang sudah ditentukan. Apalagi, jika Anda kurang berminat pada pelajaran tersebut. Siswa yang ingin berhasil tidak boleh menunda waktu belajar. Jika Anda menunda jadwal bejar, seterusnya Anda akan menjadi kurang efektif dalam menerima materi pelajaran.

6. Mulailah dengan subjek yang paling sulit terlebih dahulu
Carilah subjek pelajaran tersulit dan lebih membutuhkan upaya serta energi yang besar dalam menyelesaikannya. Setelah Anda menyelesaikan tugas tersebut, Anda akan lebih mudah untuk menyelesaikan sisa tugas. Percaya atau tidak, dimulai dengan pekerjaan yang paling sulit akan sangat meningkatkan efektivitas sesi belajar dan prestasi akademis Anda.

7. Tinjaulah kembali catatan Anda 
Tinjaulah segala catatan Anda di kelas terlebih dahulu. Sebelum Anda menulis segala catatan yang baru, tinjaulah hasil catatan Anda secara menyeluruh untuk memastikan bagaimana menyelesaikan tugas dengan benar.

8. Pastikan tidak ada gangguan dalam belajar
Ketika Anda terganggu saat belajar, Anda akan kehilangan dan memecahkan konsentrasi belajar. Untuk itu, sebelum Anda mulai belajar, temukanlah tempat di mana Anda tidak akan terganggu.

9. Gunakan kelompok belajar efektif
Pernahkah Anda mendengar kalimat "Dua kepala lebih baik dari satu?". Pernyataan tersebut dapat dibenarkan dalam situasi belajar. Bekerja dalam kelompok memungkinkan Anda untuk mendapatkan bantuan dari siswa lain ketika Anda kesulitan memahami konsep,  menyelesaikan tugas lebih cepat, dan membantu siswa lain dan diri Anda sendiri dalam menginternalisasi subjek materi. Namun, kelompok belajar bisa menjadi sangat tidak efektif jika mereka tidak terstruktur.

10. Tinjau kembali catatan sekolah dan bahan-bahan kelas Anda selama akhir pekan
Siswa yang berhasil meninjau kembali apa yang telah mereka kerjakan selama seminggu pada akhir pekan, akan membantu mereka untuk merumuskan jadwal selanjutnya secara lebih efektif.

Kisah Kejujuran Dua Bocah Jalanan



Kejujuran memang sangat berharga dewasa ini. Sebagaimana kisah kejujuran yang dirilis dalam Intisari Grid (29/12) mengajarkan kejujuran sejak dini akan membentuk pribadi yang bijaksana. Di tengah kerasnya kehidupan kota Jakarta, kita bisa bercermin kepada cerita dua bocah ini. Betapa setiap tetes rezeki harus diraih dengan berusaha. Tidak datang begitu saja.

Siang itu, saat melintas jembatan penyeberangan di sebuah jalan di kawasan segitiga emas Jakarta, saya berpapasan dengan dua bocah kurus, kumal, dan bermandikan keringat. Menenteng tas plastik hitam, mereka menawarkan tisu. Saya pun menolak tanpa peduli. Mereka membalas kecuekan saya dengan ucapan sopan, “Terima kasih Oom!”

Mereka lalu menawarkan dagangannya kepada orang lain yang lalu lalang di jembatan itu. Di ujung jembatan, teronggok kantong hitam stok tisu mereka. Saya melihatnya sepintas dan masih ada sekitar dua per tiga tisu berada di dalam kantung itu.

Ketika saya melintas kembali menuju kantor, dua bocah tadi sedang memperoleh pembeli, seorang wanita. Masih dengan senyum ceria mereka. Apalagi transaksi berhasil. “Terima kasih ya Mbak … Semuanya dua ribu lima ratus rupiah!” tukas mereka. Tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah. Sayang, dua bocah itu tidak memiliki uang kembalian. Di sisi lain Mbak tadi juga tidak memiliki uang pas. Dengan sigap, salah satu dari mereka menghampiri saya yang berada tak jauh dari mereka. “Oom, boleh tukar uang enggak, receh sepuluh ribuan?” suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian pembelian makan siang tadi, Rp4.000,-. Mungkin karena lama menunggu, Mbak pembeli tadi langsung bilang, “Ambil saja kembaliannya, Dik!” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya ke arah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti. Secepat kilat ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget, setengah berteriak ia bilang “Sudah buat kamu saja, enggak apa-apa ambil saja!” Namun si anak berkeras mengembalikan uang tersebut. “Maaf Mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan!”

Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi meninggalkannya. Tinggallah saya dan mereka. Uang Rp10.000,- digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar, “Om, tunggu sebentar ya, saya ke bawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek!”

“Eeh ... enggak usah. Biar saja ... nih!” saya kembalikan lagi uang itu ke si kecil. Ia menerimanya, tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek. Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya. “Nanti dulu Om, biar ditukar dulu ... sebentar.”

“Enggak apa-apa, itu buat kalian,” lanjut saya.

“Jangan Oom, itu uang Oom sama Mbak yang tadi juga,” anak itu bersikeras.

“Sudahlah. Saya ikhlas, Mbak tadi juga pasti ikhlas!” saya berusaha menyelesaikan persoalan ini. Namun ia tetap menghalangi saya sejenak sebelum berlari ke ujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat. Secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari ke arah saya. “Ini deh Oom, kalau kelamaan, maaf.” Ia memberi saya delapan pack tisu.

“Buat apa?” saya terbengong.

“Maaf, tukar pakai tisu saja dulu Oom. Habis teman saya lama sih.” Walau dikembalikan ia tetap menolak.

Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam tisunya. Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tisu dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah. “Terima kasih Om!” Mereka kembali ke ujung jembatan sambil sayup-sayup terdengar percakapan, “Duit Mbak tadi gimana?” suara kecil yang lain menyahut. “Lu hafal 'kan orangnya. Kali saja ketemu lagi ntar kita kasihin.”

Sesampai di meja kantor saya masih terpikir kejadian itu. Semoga mereka menjadi bijak seperti ungkapan Thomas Jefferson, presiden ke-3 AS, kejujuran adalah pelajaran pertama dari sebuah buku kebijaksanaan.

Belajar dari Gigihnya Jenderal Sudirman





Dikenal sebagai salah satu pahlawan Indonesia, jasa-jasanya sangat dikenang dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Jenderal Besar Soedirman menurut Ejaan Soewandi dibaca Sudirman, Ia merupakan salah satu orang yang memperoleh pangkat bintang lima selain Soeharto dan A.H Nasution. Jenderal besar Indonesia ini lahir di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, 24 Januari 1916. Ayahnya bernama Karsid Kartawiuraji dan ibunya bernama Siyem. Namun ia lebih banyak tinggal bersama pamannya yang bernama Raden Cokrosunaryo setelah diadopsi. Ketika Sudirman pindah ke Cilacap di tahun 1916, ia bergabung dengan organisasi Islam Muhammadiyah dan menjadi siswa yang rajin serta aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler.

Kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi serta ketaatan dalam Islam menjadikan ia dihormati oleh masyarakat. Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Saat usianya masih 31 tahun ia sudah menjadi seorang jenderal.

Meski menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda. Ia berlatar belakang seorang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan giat di kepanduan Hizbul Wathan.

Profil dan Biografi Jendral Besar Sudirman
Ketika pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor yang begitu tamat pendidikan, langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI).

Ia merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak perduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini.

Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara.

Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini.

Sudirman yang dilahirkan di Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916, ini memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi. Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo tapi tidak sampai tamat.

Sudirman muda yang terkenal disiplin dan giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan ini kemudian menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Kedisiplinan, jiwa pendidik dan kepanduan itulah kemudian bekal pribadinya hingga bisa menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Perang.

Sementara pendidikan militer diawalinya dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Setelah selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya.

Ketika itu, pria yang memiliki sikap tegas ini sering memprotes tindakan tentara Jepang yang berbuat sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Karena sikap tegasnya itu, suatu kali dirinya hampir saja dibunuh oleh tentara Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel.

Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Jadi ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya.

Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Demikianlah pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa.

Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.

Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, Ibukota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai. Jenderal Sudirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tingggal satu yang berfungsi.

Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu, walaupun Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan.

Namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara.

Melakukan Perang Gerilya
Maka dengan ditandu, ia berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah sekali sementara obat juga hampir-hampir tidak ada.

Tapi kepada pasukannya ia selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya. Namun akhirnya ia harus pulang dari medan gerilya, ia tidak bisa lagi memimpin Angkatan Perang secara langsung, tapi pemikirannya selalu dibutuhkan.

Sudirman yang pada masa pendudukan Jepang menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Keresidenan Banyumas, ini pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan.

Jenderal yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi, ini akhirnya harus meninggal pada usia yang masih relatif muda, 34 tahun. Pada tangal 29 Januari 1950, Panglima Besar ini meninggal dunia di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan. (Diolah dari berbagai sumber*)

Berikut memoriam yang sangat menyentuh dari Jenderal Sudirman.

 

Kisah dan Rahasia Sukses BJ Habibie





Bacharuddin Jusuf Habibie atau singkatan dari BJ. Habibie adalah tokoh yang dikenal sangat jenius tidak hanya di Indoneisa namun, di luar negeri pun beliau sangat dikagumi dan diakui kejeniusannya yang mampu menciptakan pesawat terbang dengan konsep dari ide-idenya yang begitu brilian.  BJ. Habibie merupakan tokoh inspiratif dan sangat memotivasi bagi masyarakat Indonesia khusunya bagi anak muda yang ingin sukses menggapai impian dan cita-cita. BJ. Habibie patut kamu jadikan tokoh yang inspiratif.

Terus apakah rahasia sukses dari BJ. Habibie? Berikut ini rahasia mengapa BJ Habibie bisa sukses sebagaimana dilansir dalam Merdeka (27/6) Sejak berumur lima tahun silam, Bacharuddin Jusuf Habibie kerap terpesona jika melihat karya manusia. Entah itu alat transportasi seperti sepeda, mobil, sampai prasarana transportasi seperti jembatan dan sebagainya. Diam-diam dalam benaknya selalu bertanya-tanya mengapa, sebab, dan bagaimana bisa terjadi. Pertanyaan itu terus meneror kesadarannya, hingga mendorong dirinya menjadi manusia dengan rasa keingintahuan yang tinggi.

Dia kerap bertanya tentang apapun di luar sepengetahuannya. Kepada siapa pun di dekatnya, dia selalu bertanya. Hingga tiba saat ayahnya mulai bosan pada hobi bertanya Habibie. Akhirnya ayahnya membelikan buku. Dari sanalah jawaban atas berbagai pertanyaan dijelajahinya.

“Namun pertanyaan-pertanyaan akhirnya berkembang menjadi kompleks dan meningkat jumlahnya. Sehingga kebiasaan saya bertanya sudah sampai pada tingkat mengganggu kesibukan orang tua dan guru saya,” kenang BJ Habibie seperti dikutip dari buku Biografi Bacharuddin Jusuf Habibie; Dari Ilmuwan ke Negarawan sampao Minandito, A Makmur Makka.

BJ Habibie terpaksa mencari sendiri jawabannya dalam buku. Kebiasaan yang demikian menjadikan saya sebagai kutu buku. Akibatnya dia sering menghabiskan waktu untuk menyendiri untuk terus beranalisis, tak berhenti berpikir.

“Untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan, saya selalu didampingi oleh guru pribadi yang setia, yaitu otak saya! Ibu, ayah, keluarga, guru sekolah, guru besar di universitas, para ilmuwan, dan sebagainya saya anggap sebagai pembantu guru pribadi saya saja,” ucapnya.

Bukan hanya kebiasaan bertanya, Habibie berani konsisten dalam memanajemen waktunya. Dia hanya membutuhkan waktu untuk tidur sebanyak lima jam saja. Sedangkan waktunya dua jam dipergunakan untuk salat. Satu setengah jam untuk rutinitas membaca Yasin dan Tahlil. Kemudian dua jam untuk berenang dan mandi. Sedangkan tiga jam dihabiskan untuk makan. Tiga jam lainnya ia manfaatkan untuk berbincang dengan para tamunya. Sehingga sisanya sebanyak tujuh setengah jam, dipergunakannya untuk membaca atau menulis.

Selain itu, BJ Habibie selalu mengingatkan bahwa kekuatan rantai ditentukan oleh keunggulan mata rantai terlemah. Kesimpulannya ialah, kualitas suatu produk ditentukan oleh mutu tiap detail. Sebab kualitas karya dan kualitas kerja ditentukan oleh kualitas rinci. Maka dari itu berpikirlah secara rinci dan positif. Di sisi lain BJ Habibie selalu ingin menjadi pribadi kreatif dan inovatif.

Berikut kita saksikan, kisah inspiratif dari BJ. Habibie


Menenun Semangat Kebangsaan!



Pengertian semangat  kebangsaan adalah suatu keadaan yang menunjukkan adanya kesadaran untuk menyerahkan kesetiaan tertinggi dari setiap pribadi kepada Negara/bangsa. Pengertian ini sejalan dengan makna semangat kebangsaan  yang identik dengan konsep nasionalisme dan patriotisme. Nasionalisme adalah suatu paham yang menganggap bahwa kesetiaan tertinggi atas setiap pribadi wajib diserahkan kepada negara kebangsaan atau nation state. Sedangkan Patriotisme berarti ‘semangat cinta tanah air atau sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk mempertahankan bangsanya’.

Nasionalisme dan patriotisme dibutuhkan bangsa Indonesia untuk menjaga kelangsungan hidup dan kejayaan bangsa serta negara. Kejayaan sebagai bangsa dapat dicontohkan oleh seorang atlet yang berjuang dengan segenap jiwa dan raga untuk membela tanah airnya.

Salah satu semangat yang dimiliki para pejuang kemerdekaan dan paea pendiri negara adalah semangat mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi ataupun golongan.


Menenun Semangat Kebangsaan
Sebagaimana dilansir dalam Kompas.com (30/01) Ada sebuah kegelisahan yang selalu menggeliat dalam benak kita manakala mencermati fenomena radikalisme yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.

Mengapa radikalisme kerap kali berujung kekerasan? Apakah kekerasan sudah menjadi sebuah habitus utama yang memang ditakdirkan oleh pelaku radikalisme untuk mengekspresikan segala macam pikiran dan perilakunya? Dan, ketika pelaku radikalisme banyak didominasi oleh kelompok keagamaan tertentu, apakah naluri keberagamaan mereka memang dibaluti oleh ajaran kekerasan yang diyakini sebagai khitahnya?

Beberapa pertanyaan di atas merupakan cermin analitik yang banyak dikupas oleh berbagai kalangan yang secara khusus mengkaji dan meneliti fenomena radikalisme yang banyak disertai kekerasan. Tulisan Mark Juergensmeyer, ”Teror Atas Nama Tuhan: Kebangkitan Global Kekerasan Agama” jadi salah satu kajian empiris perihal radikalisme yang begitu masif dimanfaatkan sekelompok orang sebagai ekspresi tindak kekerasan.

Apalagi ketika naluri keberagamaan yang radikalistik beririsan dengan semangat fundamentalisme untuk menegakkan paham keagamaan secara subyektif yang didominasi oleh ciri berpikir yang absolut, non-dialogis, apologetik-defensif, dan pengklaim kebenaran. Maka, yang bermunculan adalah sikap kefanatikan yang mewujud dalam bentuk perasaan sentimen dan penyesatan terhadap serangkaian perbedaan yang ada.

Atas dasar potret radikalisme yang begitu durjana, kita pun bertanya-tanya, bagaimana cara efektif untuk menangkal dan mengatasi radikalisme tersebut? Apalagi, berdasarkan hasil survei INFID dan jaringan Gusdurian di sejumlah kota di Indonesia, 88,2 persen penduduk Indonesia menolak tindakan radikalisme yang berbasis agama. Lalu, adakah jalan lain yang bisa dijadikan panduan etis dan landasan etos untuk menciptakan kedamaian dalam kehidupan kita, yang dalam bahasa agama dikenal dengan istilah rahmatan lil alamin?

Meneguhkan Pancasila

Tulisan Donny Gahral Adian berjudul ”Radikalisme dan Pancasila” (Kompas, 14/1) menjadi catatan menarik untuk direfleksikan bersama: bahwa untuk menangkal radikalisme bisa melalui Pancasila yang didasari oleh semangat kolektivitas, yaitu lima sila yang terkandung dalam Pancasila sejatinya mencerminkan ide-ide kolektivitas. Ketika kita berketuhanan, maka kita harus memelihara solidaritas antarmanusia pula.

Pandangan Donny Gahral Adian ini memberikan wawasan lebih kepada kita bahwa dalam meneguhkan Pancasila, Pancasila harus diawali dengan cara kita membangun sebuah pola pikir yang menyeluruh terhadap lima sila yang termuat di dalamnya.

Semisal, ketika kita memahami dan menghayati sila pertama, kita tidak bisa menafikan dan menegasi keberadaan manusia lainnya—yang basis ontologisnya termaktub dalam sila kedua— yang memiliki sistem kepercayaan yang berbeda. Sebab, jika itu yang dilakukan, sila ketiga yang menyerukan spirit persatuan tidak akan bisa dilaksanakan dengan baik.

Demikian halnya sila keempat yang menyerukan spirit kehikmatan melalui mekanisme permusyawaratan dan atau perwakilan, tidak akan bisa berjalan dengan baik jika di antara kita masih memahami sila pertama secara sektoral dan parsial. Apalagi ketika kita akan membincangkan ihwal keadilan sosial, yang bisa meliputi semua rakyat Indonesia, maka sangat mustahil untuk membangun iklim kesetaraannya.

Dengan demikian, semangat kolektivitas yang menghubungkan antara satu sila dan sila yang lain di dalam meneguhkan Pancasila menjadi modalitas keterjalinan antara satu sikap dan sikap yang lain untuk mewujudkan pelibatan empatik dalam perilaku kita.

Kita tidak lagi mempersoalkan perbedaan keyakinan, perbedaan ras, perbedaan ideologi dalam menenun semangat kebangsaan, dan menyikapi persoalan keindonesiaan. Akan tetapi, yang patut disadari, kita adalah sesama manusia yang senasib sepenanggungan, yang lazimnya harus peduli bersama terhadap tegaknya kedamaian negara ini. Oleh karena itu, dalam meneguhkan Pancasila, perlu memerhatikan ikatan bersama dengan perasaan kolektif bahwa kehidupan yang damai akan tercipta jika antara satu dan yang lain sama-sama berempati secara lintas batas.

Nilai-nilai ”rahmatan lil alamin”

Dengan menempatkan ide-ide kolektivitas dalam meneguhkan Pancasila dan disertai dengan sikap pelibatan secara empatik antara satu dan yang lain, maka seiring dengan waktu Pancasila akan menjadi pandangan hidup berbangsa dan bernegara yang dapat memberikan suatu pedoman mengenai nilai kehidupan yang mengedepankan kedamaian bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin).

Secara sosiologis, konsep dasar rahmatan lil alamin menegaskan berbagai nilai keluhuran perihal bagaimana menyemaikan kesadaran etik yang mengedepankan prinsip-prinsip toleransi (tasamuh), moderasi (tawasuth), keseimbangan (tawazun), dan keadilan (ta’adul) dalam kehidupan. Dalam kaitan ini, beberapa prinsip ini menjadi modalitas yang dapat mempertemukan semua elemen bangsa yang terdiri atas berbagai latar belakang. Sebab, sejatinya, merujuk pada pemikiran Muhammad Fethullah Gulen dalam buku ”Islam Rahmatan Lil ’Alamien: Menjawab Pertanyaan dan Kebutuhan Manusia” bahwa kerahmatan adalah kebutuhan dasar yang dirindukan oleh setiap orang.

Dengan kerahmatan, setiap orang bisa mengekspresikan dirinya di berbagai arena tempat ia berada. Seorang pelaku usaha merasa nyaman menjalin perdagangannya, seorang pejabat merasa tenteram menjalankan tugas kekuasaannya, seorang pendidik merasa bebas mentransformasikan pengetahuannya, dan siapa pun yang memiliki profesi yang berbeda-beda akan merasakan keteduhan dalam menjalankan tugasnya.

Dalam kaitan ini, Pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang diyakini sebagai ideologi bangsa, baik dalam lingkup pengetahuan (kognitif) maupun ajaran nilai (afektif dan psiko- motorik), dapat dijadikan sebagai ruang alternatif untuk menyemaikan nilai-nilai rahmatan lil alamin. Di saat wajah agama diekspresikan secara radikalistik oleh sekelompok orang, dan yang terjadi setiap pemeluk agama sibuk mempertarungkan ”atas nama Tuhan” untuk menebar pengaruh sosialnya, maka Pancasila perlu dihadirkan sebagai jalan kerahmatan yang dapat mengarahkan semua elemen masyarakat kepada sikap saling mengasihi dan menghargai.

Melalui landasan prinsipil, seperti toleransi, moderasi, keseimbangan, dan keadilan, nilai-nilai kerahmatan bisa dijadikan landasan filosofi Pancasila dalam membangun negara yang damai, aman, dan sentosa. Dan, ketika situasi kehidupan sejuk ini yang ditonjolkan, maka Indonesia bersama Pancasila-nya akan menjadi kiblat perdamaian yang akan dirujuk oleh dunia.


Fathorrahman Ghufron,
Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga; Wakil Katim Syuriyah PWNU Yogyakarta

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 Januari 2017, di halaman 7 dengan judul "Menenun Semangat Kebangsaan".

Untuk lebih memahami apa itu semangat kebangsaan mari tonton video berikut.




Sunday, August 20, 2017

Karakter Kreatif Itu Penting Lho…



Apa itu kreativitas? Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan sesuatu yang baru bagi dunia berdasarkan sebuah inovasi. Misalnya, ketika Newton merasakan ada buah Apel di kepalanya, ia merumuskan hukum gravitasi yang merupakan dasar dari banyak perhitungan hari ini. Ketika Thomas Alva Edison menganalisis kebutuhan cahaya untuk melawan kegelapan di malam hari, analisis ini membimbingnya dalam penemuan bola lampu listrik.

Kreativitas terletak pada diri setiap orang, tidak peduli apakah dia adalah seorang ilmuwan terkenal atau karyawan kelas rendah. Kreativitas terletak pada kedalaman jiwa anda dalam bentuk ide-ide inovatif yang baik. Namun kreativitas itu akan selamanya terkubur dalam diri anda apabila anda tidak merealisasikannya dalam sebuah inovasi konkrit yang bisa bermanfaat untuk anda dan dimanfaatkan oleh banyak orang. Sehingga yang anda perlukan hanyalah menciptakan sebuah inovasi dalam hidup anda. Biarkan kreativitas itu keluar dari dalam diri anda.

Abaikan saja pandangan masyarakat yang berusaha membatasi kreativitas anda, selama itu positif, anda harus memperjuangkannya. Anda dapat belajar untuk menjadi lebih kreatif dengan mengamati dan mengikuti jejak orang-orang yang kreatif di masa lalu dengan membaca dan mempelajari biografi mereka, seperti Newton, Thomas Alva Edison, Albert Einstein, dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu maka dewasa ini dalam era yang penuh dengan tantangan maka karakter kreatif sangatlah penting agar seseorang mampu bersaing. Jangan takut untuk mulai mengasah karakter kreatifmu. Hal ini karena setiap orang sebenarnya bisa mengembangkan dirinya sendiri untuk memunculkan kreativitas secara maksimal. Jadi jangan bermalas-malasan mengasah sisi kreatif dan miliki karakter hebat sebagaimana yang dilansi dari Merdeka (16/4) berikut ini.

1. Orientasi asosiatif
Maksudnya adalah karakter yang penuh imajinatif, menyenangkan, kaya ide, mampu berkomitmen, dan bisa membedakan fakta dan fiksi.

2. Keorisinilan
Seperti sikap mau melawan aturan dan arus, siap memberontak karena kebutuhan dan kesadaran bahwa orang lain tidak ada yang mau melakukan sesuatu.

3. Motivasi
Orang-orang kreatif perlu memegang tujuan, inovatif, kuat saat menghadapi masalah sulit, dan berani tampil.

4. Ambisi
Karakter yang penuh ambisi diartikan sebagai kemampuan mempengaruhi orang lain, menarik perhatian, dan keinginan untuk diakui.

5. Fleksibilitas
Memiliki kemampuan untuk melihat aspek yang berbeda dari masalah dan memunculkan solusi yang optimal.

6. Kestabilan emosi yang rendah
Uniknya, orang-orang kreatif juga memiliki kecenderungan untuk merasakan emosi negatif, moody, dan terkadang sering kurang percaya diri.

7. Keramahan rendah
Orang-orang kreatif juga cenderung cuek, tidak peduli, keras kepala, dan kerap mengkritik kesalahan dan kekurangan ide orang lain.

Itulah daftar karakter yang dimiliki oleh orang-orang kreatif berdasarkan Profesor Oyvind L Martinsen dari BI Norwegian Business School. Sudah memiliki semuanya?

Selain itu, perilaku yang mempunyai daya saing dan penuh kreativitas pun sangat dibutuhkan dalam menghadapi era ini. Kreativitas merupakan sebuah harta berharga yang harus dimiliki setiap pemuda Indonesia pada zaman ini agar berhenti menjadi bangsa yang konsumtif menjadi bangsa yang produktif. Ciptakan sebuah terobosan terbaru dari berbagai aspek dan keahlian Anda. Bisa dari dunia seni, teknologi hingga metode pendidikan. Lakukanlah semuanya demi kebaikan bangsa ini. Maka kreativitas milik Anda tidak akan terbuang sia-sia dan bangsa ini dapat berdiri tegak diatas negara-negara lainnya.

Berikut beberapa contoh kegiatan kreatif dalam kehidupan sehari-hari.



Belajar dari Orang Terkaya di Dunia



Siapa yang tidak tahu Bill Gates? Dia menduduki posisi urutan pertama sebagai orang terkaya di dunia. Ia merupakan pendiri perusahaan software yang banyak membantu orang dalam pekerjaan sehari–hari yaitu Microsoft. Tentu semua itu berkat kerja keras yang ia lakukan. Jatuh bangun sudah pasti dilewati Bill Gates dalam merintis bisnis nya.

Bernama lengkap William Henry "Bill" Gates III (lahir di Seattle, Washington, 28 Oktober 1955; umur 61 tahun) adalah seorang tokoh bisnis, investor, filantropis, penulis asal Amerika Serikat, serta mantan CEO yang saat ini menjabat sebagai ketua Microsoft, perusahaan perangkat lunak yang ia dirikan bersama Paul Allen. Ia menduduki peringkat tetap di antara orang-orang terkaya di dunia dan menempati peringkat pertama sejak 1995 hingga 2009, tidak termasuk 2008 ketika ia turun ke peringkat tiga.

Gates termasuk salah seorang pengusaha revolusi komputer pribadi terkenal di dunia. Meski demikian, taktik bisnisnya dikritik karena dianggap anti-kompetitif. Pada tahap-tahap akhir kariernya, Gates melakukan beberapa usaha filantropi dengan menyumbangkan sejumlah besar dana ke berbagai organisasi amal dan program penelitian ilmiah melalui Bill & Melinda Gates Foundation yang didirikan tahun 2000.

Tentu saja, itu merupakan pencapaian yang sangat luar biasa dan menginspirasi. Pasti kita penasaran Apa saja yang dilakukan Bill Gates agar bisa menjadi sukses seperti sekarang ini. Berikut kunci keberhasilan Bill Gates yang dapat dijadikan inspirasi sebagaimana dilansir dalam detik.com (02/08/2017):

1. Kecepatan
Dalam bisnis tentu di dalamnya ada persaingan di pasar. Siapa yang paling cepat, dialah yang menjadi terdepan. Bill Gates sangat tahu tentang hal ini, oleh karena itu dia memegang prinsip kecepatan dalam menjalan perusahaan.

2. Berpikir Jangka Panjang
Pada waktu Bill Gates keluar dari kampusnya, orang-orang mungkin ada yang menganggapnya gila. Namun, dia melakukan itu karena melihat sesuatu yang jauh lebih menarik di masa depan. Pada masa itu, belum dikenal adanya komputer tapi Bill Gates sudah bisa membayangkan bahwa suatu saat setiap orang akan membutuhkan komputer. Bill Gates tidak ingin menunda-nunda waktunya untuk segera membangun bisnis yang menurutnya sangat potensial.

3. Inovasi dan Kreativitas
Bill Gates menyadari bahwa setiap waktu dan kebutuhan manusia terus berubah. Oleh karena itu, produk yang mereka miliki juga disesuaikan dengan perubahan. Di sinilah arti pentingnya inovasi dan kreativitas agar perusahaan terus bertahan.

4. Terus Belajar
Meskipun sudah sukses, Bill Gates tetap percaya seseorang harus terus belajar dalam hidupnya. Meskipun dirinya pernah keluar dari kampus, Bill Gates tetap mengatakan kepada para pemuda bahwa menuntut ilmu di perguruan tinggi itu penting dan tidak harus ditinggalkan.

5. Ambil Tindakan
Dalam hidup memang dibutuhkan visi misi yang jelas. Akan tetapi, terkadang waktu seseorang lebih banyak terbuang karena memikirkan visi hidup mereka. Bill Gates cenderung berpikir sederhana dan lebih banyak melakukan sesuatu dibanding sekedar berbicara.

6. Fokus Pada Pengembangan Diri
Alasan kenapa Bill Gates sukses adalah karena dia mengetahui di bidang apa kemampuan dan minatnya. Dia fokus untuk mempertahankan dan mewujudkan impiannya. Keteguhan hati inilah yang mengantarkannya seperti hari ini.

Berikut adalah beberapa hal yang dilakukan oleh Bill Gates yang dapat membuat dirinya sukses. Semoga bermanfaat.