Tuesday, May 1, 2018

“MEMBANGUN GENERASI MUDA ANTI HOAX”



Indonesia ialah negara yang besar dan negara yang menjunjung tinggi persatuan serta mengedepankan nilai-nilai Pancasila. Maka Indonesia tidak perlu diragukan lagi akan hal persatuan dan kesatuan untuk mewujudkan keutuhan NKRI dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. Dalam perkembangan zaman, nilai-nilai Pancasila di Indonesia saat ini mulai terancam oleh adanya berita hoax.

Hoax adalah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca atau pendengar untuk mempercayai sesuatu, padahal pencipta berita palsu tahu bahwa berita tersebut palsu. Salah satu contoh pemberitaan palsu yang paling umum ialah mengklaim sesuatu barang atau kejadian dengan suatu sebutan berbeda dengan barang atau kejadian sejatinya.

Pada kemajuan teknologi informasi saat ini tidak hanya memberikan dampak positif tetapi juga memberikan dampak yang negatif. Penyampaian akan informasi begitu cepat dimana setiap orang telah dengan mudah memproduksi informasi dengan melalui sejumlah media massa, baik media televisi, media cetak, maupun media online yang tidak dapat difilter dengan baik. Informasi yang telah dikeluarkan dapat mempengaruhi emosi, perasaan, pikiran bahkan tindakan seseorang atau kelompok.

Selain itu, meningkatnya perkembangan pengguna internet di Indonesia dapat terlihat dengan begitu banyaknya informasi palsu yang dapat beredar lewat berbagai jalur digital. Pada saat ini Kementrian Komunikasi dan Informatika menyebutkan ada sebanyak 800 ribu situs di Indonesia yang terdeteksi sebagai penyebar berita palsu. Kemkominfo juga selama tahun 2016 sudah memblokir 773 ribu situs berdasar pada 10 kelompok. Kesepuluh kelompok tersebut mengandung unsur pornografi, penipuan illegal, narkoba, perjudian, radikalisme, kekerasan, keamanan internet, dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Beberapa kasus di Indonesia terkait berita hoax telah memakan korban, salah satunya berita hoax akan penculikan anak yang telah tersebar dibeberapa media sosial yang menyebabkan orang semakin waspada terhadap orang asing.

Seiring perkembangan teknologi, harus diakui bahwa kehadiran media massa terutama media online telah menciptakan keresahan masyarakat. Publik cenderung kesulitan membedakan media online yang memiliki kredibilitas serta payung hukum yang jelas dengan media online yang belum memiliki kredibilitas dan payung hukum yang tidak jelas. Akibat kehadiran media online di media sosial begitu pesat, maka para pengguna media sosial dengan mudah meng-share berita-berita yang muncul tanpa melakukan crosscheck dan filter apakah informasi yang diterima benar atau tidak. Dalam situasi yang demikian inilah maka anak bangsa akan mudah terjangkit wabah informasi palsu atau hoax.

Seperti apa yang telah kita ketahui sekarang, nilai-nilai Pancasila bisa saja terancam akan berita hoax, terutama sila ke-3. Sesuai bunyi sila ke-3, persatuan bangsa Indonesia untuk saat ini telah di uji akan adanya isu berita hoax. Pancasila merupakan dasar atau patokan bagi bangsa Indonesia yang harusnya menjadi pegangan dan mampu memfilter nilai-nilai yang tidak sesuai.

Merebaknya berita palsu atau hoax dikhawatirkan banyak pihak akan berdampak destruktif terhadap masyarakat. Selain membodohi, hoax dapat memicu konflik-konflik sosial baru yang selalu berkaitan dengan isu yang bersifat aktual. Berita bohong atau hoax selalu didesain sesuai dengan kebutuhan seseorang atau kelompok tersebut dan mengikuti isu-isu yang sedang berkembang, sehingga publik akan terlena dengan perkembangan isu seolah-olah berita tersebut benar.

Salah satu penyebab cepatnya peredaran berita palsu atau hoax ialah kurangnya minat baca. Rendahnya minat baca masyarakat tidak hanya terhadap buku yang dicetak tetapi juga terhadap buku digital. Semakin tinggi hasrat berkomentar di media sosial biasanya dipengaruhi hasrat membaca, tetapi kebanyakan semua kalangan langsung melontarkan komentar tanpa membaca berita secara menyeluruh.

Akhir-akhir ini berita palsu atau hoax begitu gencar beredar di dunia maya, salah satunya di media sosial. Berita yang tidak sesuai dengan fakta tersebut akan menjadi pembicaraan publik, masyarakat yang tidak mempunyai referensi informasi yang kuat akan mudah terpengaruh oleh berita palsu tersebut.

Berita palsu atau hoax tidak hanya beredar dikalangan pemerintah maupun masyarakat kalangan atas, namun kini telah beranjak ke masyarakat kalangan bawah. Sesuai apa yang telah dijelaskan dalam Pancasila, bahwa persatuan harus dijaga sedemikian mungkin. Pancasila adalah benteng yang kokoh untuk menangkal hoax yang mencoba mengikis nilai persatuan Indonesia.

Dalam rumusan Pancasila juga dimaksudkan untuk meneguhkan komitmen bangsa Indonesia agar lebih mendalami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai dasar bermasyarakat, berbangsa dan bernegara agar dapat mempererat persatuan. Namun kita harus tetap waspada terhadap berita hoax maupun segala bentuk pemahaman dan gerakan yang tidak sejalan dengan Pancasila.

Seluruh elemen bangsa dari Sabang sampai Merauke, Miangas sampai Rote merupakan bagian dari keberagaman. Berbagai etnis, bahasa lokal, adat istiadat, agama, kepercayaan dan golongan menjadi satu, itulah Bhineka Tunggal Ika. Sedangkan saat ini kebhinekaan Indonesia tengah diuji. Berbagai pandangan yang ingin mengubah, mengancam dan mengusung selain ideologi Pancasila mulai bermunculan serta diperparah oleh penyalahgunaan media sosial yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia.

Sebagai generasi muda harus memiliki tata cara antisipasi yang bersifat Pancasilais. Sesuai sila pertama, sebelum kita mengkonsumsi hoax, kita harus percaya bahwa tuhan adalah pemegang kebenaran. Sila kedua, selesaikanlah persoalan yang masih mengambang itu dengan mengingat bahwa kita adalah sama-sama manusia yang beradab dan hindari caci maki. Sila ketiga, utamakanlah tujuan persatuan bangsa. Jika terdapat konten yang terkesan mengadu domba, jauhi dan kembali pada semangat persatuan. Sila keempat, membiasakan diri menyelesaikan segalanya secara musyawarah atau tabayyun. Serta, sila yang kelima, hendaklah berlaku adil dan jangan pernah menghakimi tanpa memberikan kesempatan pada yang hendak dihakimi tersebut untuk menjawab tuduhannya.
Oleh karena itu, perlu upaya membangun kontra narasi yang lebih menyejukkan, agar toleransi yang sudah menjadi karakter negri ini tidak terganggu. Indonesia yang sangat mengedepankan keberagaman Bhineka Tunggal Ika, maka eksistensi Pancasila dan NKRI tidak boleh dijadikan bahan negosiasi. Selain itu, berita palsu atau hoax dapat mengakibatkan perpecahan, sehingga membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Selain itu peran pemerintah, peran generasi muda, peran media dan masyarakat juga sangat diperlukan.

Peran pemerintah dalam fenomena berita hoax ini dipaparkan dalam beberapa pasal yang siap ditimpakan kepada penyebar hoax. Dalam melawan hoax dan mencegah meluasnya dampak negatif hoax, pada dasarnya pemerintah telah memiliki payung hukum yang memadai. Selain itu pemerintah juga harus meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia khususnya kalangan generasi muda.
Selain itu, peran generasi muda juga sangat dibutuhkan dalam mengatasi berkembangnya berita hoax. Dalam menyikapi berita hoax ini kita sebagai generasi muda dituntut untuk berperan aktif dalam menangkal penyebaran informasi sesat yang dapat mengancam keutuhan NKRI. Maka, kita sebagai generasi muda perlu dibekali dengan kecerdasan intelektual dan kedewasaan dalam berpikir.
Tidak hanya peran pemerintah dan generasi muda saja tetapi, peran media dan masyarakat juga sangat berpengaruh terhadap berkembangnya berita hoax. Oleh karena itu, masyarakat perlu dibekali dengan pengetahuan internet sehat dengan literasi media sehingga dapat mengenali ciri-ciri berita hoax dan penerima berita dapat mengakses, menganalisis dan mengevaluasi dalam mengambil makna dari suatu berita.

Pengaruh berita hoax telah tersebar di Indonesia terutama di kalangan generasi muda. Sebagai generasi muda, kita harus membawa Indonesia menjadi generasi yang hebat, cermat, teliti serta bijak dalam menerima suatu berita. Kita juga hendaklah melawan akan adanya berita hoax dengan upaya peningkatan minat baca dan literasi media serta menanamkan nila-nilai Pancasila dengan sebaik-baiknya. Selain itu, kita juga harus mengedepankan keberagaman Bhineka Tunggal Ika serta eksistensi Pancasila agar tetap menjaga keutuhan akan adanya persatuan dan kesatuan negara Indonesia. Sekian.

*) Oleh Laurenika Civa Noviantari (SMK Negeri Karangpucung) disampaikan dalam Lomba Orasi Kebangsaan, Bulan Pancasila, Jurusan Politik dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Semarang, Tahun 2018

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon