Friday, October 27, 2017

Tak Sekadar Mengajar, Guru Harus Menginspirasi!

Tak Sekadar Mengajar, Guru Harus Menginspirasi!


Tak Hanya Mengajar, Guru Harus Menginspirasi!Dewasa ini beban guru bisa dikatakan relatif lebih berat dalam proses pendidikan karakter. Tentu saja, beban disini bukan berarti banyaknya jam mengajar didalam kelas, karena kewajiban guru memanglah mengajar. Lantas, apa yang membuat beban guru menjadi lebih berat?

Pertama, di era global ini tentu saja guru dituntut mampu menyampaikan isi materi pembelajaran sesuai dengan contoh kongkrit di lapangan. Namun, tidak jarang contoh yang kita berikan malah cenderung jauh dari realitas yang ada. Misal, dalam penyampaian materi pentingnya pemilihan umum sebagai sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang dilaksanakan secara langsung, umum,bebas, rahasia, jujur, dan adil. Namun, tidak jarang siswa yang kemudian menilai ini sebagai ‘pepesan kosong’ lantaran apa yang mereka lihat dalam berbagai media identik dengan berbagai pelanggaran, isu SARA, hingga money politic. Jadi, ada semacam gap antara apa yang diajarkan dengan kondisi aktual di lapangan.

Sehingga, tidak mengherankan jika menjadi guru tidaklah mudah mencari dan menemukan contoh atau role model dalam proses belajar mengajar. Terlebih, jika siswa banyak yang menelan mentah-mentah informasi yang mereka dapatkan dari berbagai media tersebut. Tentu, ini akan membuat anak cenderung mengeneralisir kasus-kasus lain yang berbeda. Mengkhawatirkan memang, sebab jika ini terus menerus terjadi maka bukan tidak mungkin generasi muda di Indonesia akan mengalami krisis kepercayaan di masa yang akan datang.

Kedua, beban berat selanjutnya dalam pendidikan karakter ialah guru harus mampu menjadi teladan, inspirator, dan motivator terhadap nilai-nilai karakter yang ditanamkan kepada peserta didik. Seperti contoh, ketika guru mengajarkan tentang arti pentingnya kedisiplinan –tidak jarang– kita sendiri masih belum bisa melaksanakan sepenuhnya. Dalam adigium jawa itu biasa disebut Jarkoni (Iso Berujar, Ora Iso Nglakoni)

Itu, baru seklumit dari beban berat yang harus dipikul oleh guru dewasa ini, belum lagi krisis multidemensi yang saat ini terus menggejala pada generasi muda. Melalui sentuhan guru diharapkan peserta didik tidak hanya cerdas secara intelektual, melainkan juga cerdas secara emosional dan spiritual. 

Sehingga, dalam pendidikan karakter guru memegang peranan yang sangat strategis dalam proses membentuk karakter serta mengembangkan potensi peserta didik. Dalam proses tersebut tugas guru tidak hanya berujar semata, namun juga menjadi role model menampilkan contoh keteladanan, inspirasi, dan motivasi dalam keseharian. 

Menjadi Teladan
Menjadi teladan itu lebih dari sekedar memberikan contoh. Dilematis memang jika rata-rata guru di era sekarang ini hanya sanggup menyuguhkan contoh, baik itu ucapan maupun tindakan disuatu waktu dihadapan peserta didik semata. Namun, dalam kehidupan kesehariannya tidak bisa menunjukan demikian. Padahal untuk menjadi sebuah teladan perlu mengubah contoh ucapan dan tindakan menjadi sebuah kebiasaan.

Misal, guru selalu mengucapkan salam ketika akan memulai dan mengakhiri pembelajaran, guru memberikan contoh yang baik agar murid dapat menirunya. Dengan adanya teladan yang baik, maka secara tidak langsung akan menumbuhkan hasrat bagi peserta didik untuk meniru atau mengikutinya, dengan adanya contoh ucapan, perbuatan dan contoh tingkah laku yang baik dalam hal apapun, yang dilakukan secara terus menerus, maka hal itu merupakan cara yang penting bagi pengembangan karakter dan potensi peserta didik.

Menjadi Inspirator
Dalam era krisis multidimensi yang semakin kompleks, selain memberikan contoh nyata dalam keseharian guru harus tampil sebagai seorang pendidik dan inspirator. Guru tidak hanya mengajarkan ranah teoretis semata, melainkan pula mampu membangkitkan semangat dan menggerakan potensi peserta didik secara optimal. 

Guru, tidak perlu sungkan menceritakan jatuh bangunnya dalam meraih prestasi, kesuksesan dan pengalaman belajarnya. Misalnya, guru dapat menceritakan kehidupan semasa sekolahnya dulu yang sangat sederhana namun tetap semangat untuk mengapai prestasi. Hal ini cenderung akan menjadi stimulus anak, yang secara otomatis akan menginspirasi peserta didik dalam belajar. Disinilah, dibutuhkan guru-guru yang mampu mengobarkan semangat berprestasi peserta didik di sekolah.

Menjadi Motivator
Setelah menjadi teladan dan inspirator, peran guru yang tidak boleh dilupakan selanjutnya ialah mampu menjadi motivator. Disini peran guru tidak sebatas mencontohkan dan menginspirasi semata, melainkan mampu membangkitkan semangat peserta didik. Guru harus menjadi ‘lokomotif penggerak’ yang benar-benar mampu mendorong peserta didik menuju perkembangan karakter dan potensi yang lebih baik.

Tentu saja, memberikan motivasi dapat dilakukan dengan memberikan reward dan punishment yang humanis, mengajar dengan cara menyenangkan, hingga mengasah jiwa kompetisi anak.

Melihat semua itu, mungkin sebagian besar dari kita dapat menyimpulkan bahwa tugas dan peran guru dalam pendidikan karakter tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Sebab itu, guru hendaknya mampu beradaptasi dengan berbagai perkembangan dan meningkatkan kompetensinya. Selanjutnya guru harus mampu menjadi role model sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Terakhir – Mengutip Ki Hajar Dewantara – Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani (Didepan memberikan contoh, ditengah memberi semangat, dan dibelakang memberikan dorongan). - Erman Istanto, S.Pd. (Guru SMK Negeri Karangpucung)

**Tulisan ini dimuat dalam SatelitPost baik versi cetak maupun online.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon