Sunday, August 20, 2017

Kisah Inspiratif Taufik Hidayat



Taufik Hidayat bisa dibilang merupakan salah satu pebulutangkis terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Menantu Agum Gumelar itu memutuskan mengakhiri karier profesionalnya setelah turnamen Indonesia Open. Sayangnya, Taufik gagal menutup perjalanan emas kariernya dengan gelar juara.

Taufik secara tragis harus tersingkir di putaran pertama Indonesia Open setelah setelah kalah dari pebulutangkis India Sai Praneeth, Rabu 12 Juni 2013 malam WIB. Padahal Taufik dikenal sebagai Raja Indonesia Open. Dia sudah enam kali menjuarai Indonesia Open sepanjang kariernya di tahun 1999, 2000, 2002, 2003, 2004, dan 2006.

Putra pasangan Aris Haris dan Enok Dartilah itu mulai mengenal bulutangkis pada usia tujuh tahun. Pertama kali Taufik meraih gelar juara pada Kejuaraan Piala Aqua di Solo pada usia 13 tahun. Taufik memulai kariernya di di klub Sangkuriang Graha Sarana (SGS) Elektrik Bandung. Di sana ia dilatih mantan pebulutangkis nasional Iie Sumirat. Bakat Taufik makin terasa di sana. Pada usia 18 tahun, Taufik mampu mencapai final All England sebelum dikalahkan Peter Gade.

Memasuki awal tahun 2000-an Taufik meraih masa kejayaannya. Berbagai ajang bergengsi mampu dijuarai Taufik, begitu juga saat membela Indonesia. Gelar Piala Thomas, emas SEA Games, Asian Games dan bahkan emas Olimpiade 2004 sukses direbut pemain bertinggi 176 cm itu.

Pria 31 tahun itu juga cukup lama menjadi pemain nomor satu dunia. Keberhasilan Taufik itu tak lepas dari kelebihannya pada backhand dan jumping smash keras, drop shot akurat, footwork yang rapih serta permainan net yang mematikan. Suami Ami Gumelar itu bahkan mencatatkan rekor jumping smash pada Kejuaraan Dunia 2006 saat menghadapi Ng Wei dengan kecepatan 305 km/jam. Rekor itu masih bertahan sampai sekarang.

Kini Taufik sudah benar-benar berhenti sebagai pebulutangkis profesional. Meski sudah pensiun, Taufik akan tetap membantu pembinaan bulutangkis di Indonesia dengan membuka Taufik Hidayat Arena. Jasa besar Taufik dalam dunia bulutangkis membuatnya akan dikenang sebagai legenda. Good Bye Taufik!.

Rahasia sukses Ala Taufik Hidayat
Sebagaimana dilansir dalam djarumbadminton.com inilah kiat sukses menurut Taufik Hidayat. Bagi Anda yang mau seperti Taufik Hidayat? Tak mudah. Selain proses yang begitu panjang, butuh mental dan komitmen yang kuat untuk bisa mencapai posisi puncak seperti Taufik saat ini.

Untuk menjadi seorang pebulutangkis besar, perjalanan Taufik dimulai sejak usianya 9 tahun. Bersama sang Ayah Aris Haris, Taufik kecil sudah digembleng untuk menekuni bulutangkis. Jarak 40km Pengalengan-Bandung pun jadi santapan juara enam kali Indonesia Open itu demi berlatih bulutangkis.


Taufik yang lahir pada 10 Agustus 1981 ini pun harus memilih antara pendidikan atau karier bulutangkisnya saat ia lulus SMA. Atas dasar kecintaannya pada olahraga tepok bulu ini, ia memutuskan hijrah ke Jakarta untuk bisa mengembangkan kariernya.

Pilihannya tepat. Ia mampu mempertanggungjawabkannya dengan baik. Sampai di akhir kariernya, ia telah mengantongi dua kali gelar SEA Games (1999&2007), Asian Games (2002&2006), Thomas Cup (2000&2002), juara Olimpiade (2004), juara dunia (2005), serta enam kali juara Indonesia Open (1999, 2000, 2002, 2003, 2004, 2006).

Apa sih rahasianya buat jadi juara seperti Taufik? "Dengan karakter yang kuat, tanggung jawab, komitmen, serta tujuan," sebutnya.

Komitmen itu juga ia buktikan saat ia memutuskan mundur dari Pelatnas PBSI di Cipayung. Pengakuan serta alasan soal kemundurannya itu baru ia ucapkan dengan lantang di acara perpisahan Taufik, Rabu (19/6) malam.


"Saya selalu bilang alasan saya adalah untuk regenerasi pemain junior. Tapi itu alasan nomor dua. Alasan utamanya adalah karena komitmen saya terhadap pelatih. Saat itu pelatih saya (Mulyo Handoyo) tidak dipanggil lagi ke PBSI. Ini komitmen saya, saya ikut mundur," aku anak pasangan Aris Haris dan Enok Dartilah itu.

Kini, atlet kebanggan merah putih itu gantung raket. Dengan komitmen, tanggung jawab dan dedikasinya buat bulutangkis Indonesia, ini jadi perpisahan yang manis. Lewat Taufik Hidayat Arena (THA) miliknya, Taufik, Taufik muda bakal ia cetak. Terima kasih, Taufik!
 (diolah dari berbagai sumber*).



Artikel Terkait


EmoticonEmoticon